Text
K.H. Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri Ikhlas Membangun Negeri
Dalam pengantarnya Gus Dur menegaskan bahwa salah jika ada anggapan (stereotip) kalau organisasi NU itu orang Jawa an sich. Karena faktanya NU pernah dipimpin oleh Kiai Idham Chalid dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, selain itu ada tokoh militan dari Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara yang bernama K.H. Zainul Arifin Pohan.
Pada era kemerdekaan kontribusi beliau sangat besar untuk negeri ini, yakni sebagai komandan laskar Hizbullah. Beliau ikut andil dalam berperang melawan penjajah, terutama saat agresi militer II Belanda. Pada masa itu, Kiai Zainul Arifin bertugas mengkonsolidasikan laskar-laskar militer untuk membantu tentara, bergerilya di bawah komando Jendral Soedriman.
Sementara dalam pemerintahan, beliau pernah menjabat sebagai Anggota DPR Sementara (DPRS), Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali Sastroamijoyo I, dan juga anggota Majelis Penasihat Pemimpin Revolusi (MPPR). Karena kiprah dan jasanya yang besar itulah pada tahun 1963 beliau dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia.
Buku ini menjadi semacam rekam jejak perjuangan Kiai Zainul Arifin yang layak dibaca oleh generasi sekarang agar tidak melupakannya. Bahkan Gus Dur sendiri menuliskan tentang sosoknya. Dua hal yang disorot oleh Gus Dur. Pertama adalah peran Kiai Zainul Arifin selama di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Kedua, perannya dalam percaturan politik nasional.
Beliau mulai aktif berkecimpung di NU sejak tahun 1933 menjadi anggota Ansor. Pada tahun 1935 Kiai Zainul Arifin diangkat menjadi Ketua Cabang Nahdlatul Ulama Jatinegara. Dari sana, beliau kemudian memiliki kedekatan dengan Rais Akbar K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Chasbullah.
Saat Muktamar NU ke-13 di Menes, Banten, namanya sudah menonjol karena kecerdasan, keuletan, dan kepiawaiannya dalam berdiplomasi sehingga mampu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di dalam organisasi. Pada saat muktamar berlangsung, beliau dipercaya sebagai pimpinan sidang.
Sementara dalam politik nasional beliau mampu menjaga kepentingan umat Islam. Bersama Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Saifuddin Zuhri, dan beberapa kiai yang lain bekerja keras mengerahkan strategi politik demi Nahdlatul Ulama dan pesantren. Dalam kepemimpinannya, NU menjadi kekuatan penyeimbang di era Soekarno.
Dalam buku ini penulis membagi empat bab. Bab pertama, bicara tentang sejarah dan latar belakang keluarga yang melingkupi Kiai Zainul Arifin hingga meretas karir di organisasi Islam tradisional, Nahdlatul Ulama. Bab kedua, perjuangannya secara fisik dan politik selama periode pendudukan Jepang hingga proklamasi yang tergabung dalam laskar Hizbullah.
Bab ketiga, secara khusus merinci peran Kiai Zainul Arifin pada masa revolusi (1945-1949), selain aktif sebagai komando laskar Hizbullah, beliau juga terlibat di Komite Nasional Indonesia Pusat. Bab keempat, berisi konsentrasi Kiai Zainul Arifin pada kegiatan-kegiatan BP KNIP hingga diberlakukannya UUD Sementara 1950 yang membawanya menjadi anggota DPRS. Pada bab ini juga diulas peristiwa berdarah pada 14 Mei 1962, beliau terkena tembakan oleh kelompok Islam ekstrimis saat salat Idul Adha bersama Bung Karno di depan Istana Negara dan akhirnya wafat.
Buku ini adalah bacaan wajib bagi generasi sekarang, untuk mengenang kembali jasa pahlawan kita dalam menjaga keutuhan NKRI.
Tidak tersedia versi lain