Text
Histori Kutai: Peradaban Nusantara di Timur Kalimantan dari Zaman Mulawarman hingga Era Republik
Titik nol sejarah peradaban Kepulauan Nusantara dimulai dari kehadiran aksara pada prasasti yupa di Muara Kaman-Martapura Kutai abad V Masehi. Pada masa kini, pusat pemerintahan baru Negara Indonesia dimulai pembangunannya di Ibu Kota Nusantara di timur Pulau Kalimantan. Dari aspek sejarah, seluruh lokasi Ibu Kota Nusantara, baik kawasan inti pusat pemerintahan maupun pengembangannya, pada zaman monarki tradisional merupakan perkampungan di dalam otoritas pemerintahan Kerajaan Kutai Kertanegara. Entitas Kutai mengalami dinamika politik, ekonomi, sosial, dan budaya dalam lini masa yang panjang lebih dari 16 abad. Dari zaman Hindu-Buddha hingga transformasi ke Islam, lalu dari zaman VOC sampai era kolonial Hindia Belanda, kemudian dari zaman Jepang hingga era Republik, Kutai mengalami sejarah yang pasang-surut. Ada glory, ada tragedi. Samarinda, kota seribu sungai, menjadi bandar dagang Kesultanan Kutai sejak ibu kota monarki dipindahkan dari Jaitan Layar ke Jembayan (1732) dan Tenggarong (1782). Infiltrasi Van Mook 1946 memecah belah kerabat Sultan Kutai. Sempat menjadi Daerah Istimewa dalam NKRI. Tapi Revolusi Nasional Indonesia 1960 melikuidasi birokrasi kesultanan. Kaum aristokrat diburu aparat bersenjata. Setahun pasca-Reformasi 1998, Kesultanan Kutai resmi direstorasi. Beredar kabar adanya dana triliunan Rupiah milik Sultan Kutai di lembaga perbankan Belanda, akumulasi royalti dan bagi hasil kontrak Kutai-Belanda sejak akhir abad ke-19. Penelitian historis buku ini berbasis prasasti yupa di Museum Nasional Jakarta dan menggunakan sumber dokumen koleksi ANRI di Jakarta, manuskrip Arab Melayu Salasilah Kutai, catatan koleksi kerabat Kesultanan Kutai, serta sumber lisan cucu dan kerabat Sultan Kutai di Jakarta dan Kalimantan Timur.
Tidak tersedia versi lain