Buku ini menghimpun surat-surat dan catatan Kartini periode 1898–1904 yang merefleksikan pemikiran, perjuangan emansipasi perempuan, pendidikan, dan kondisi sosial budaya Indonesia pada masa kolonial Belanda.
Ada dua situasi yang melatari lahirnya program Visibilitas Perempuan Pejuang Tanah Air. Ini dimulai dari sebuah pertanyaan. Mengapa begitu sulit program-program masyarakat sipil, khususnya dalam isu tata kelola lahan menjangkau perempuan di situs-situs krisis sosial ekologis?
Pandangan gender mendapat tempat istimewa di masyarakat luas tempat dikotomi laki-laki-perempuan dipahami secara umum dan acapkali dijustifikasi. Demikian pula hal ini pada kelanjutannya lahir di bidang kritik sastra, yang belakangan dikenal luas dengan sebutan kritik sastra feminis (KSF). Oposisi laki-laki-perempuan sangat kuat karena posisinya dalam ideologi gender.Oposisi ini muncul sebagai …